COVID-19 di RI

(data per 25 Oktober 2020)
389712
Positif
313764
Sembuh
13299
Meninggal
Pencegahan Info Kasus

Belajar Dari China Antisipasi Gelombang Kedua COVID-19

Hellofit

Hanya dalam 12 hari saja Pemerintah China telah menguji asam nukleat pada hampir 7 juta orang demi mengantisipasi gelombang kedua virus corona. Dari pengujian tersebut ditemukan 206 kasus asimptomatik atau positif namun tanpa gejala. Munculnya kasus baru membuat pejabat China mengunci 100 juta penduduk di wilayah timur laut.

Setelah 76 hari sejak lockdown yang dilakukan pada 23 Januari 2020, pembatalan penerbangan, operasionalisasi kereta api dan bus serta pintu masuk jalan raya utama mulai dilonggarkan kembali. Namun setelah pelonggaran yang dilakukan pada awal April tersebut, beberapa hari kemudian yakni di awal Mei justru ditemukan 6 kasus baru. Pemerintah Wuhan mengaku telah melakukan pengujian kepada jutaan orang untuk menindaklanjuti hal ini.

Pada 12 Mei, pemerintah China juga mengumumkan bahwa akan melakukan pengujian massal. Setiap hari dilakukan peningkatan jumlah orang yang dilakukan pengujian. Menurut Komisi Kesehatan Wuhan, lebih dari 1,1 juta orang dites pada 23 Mei atau lebih dari 26 kali lipat jumlah yang diselesaikan pada hari pertama.

Tentu saja Pemerintah China tidak ingin merusak prestasi yang sudah mereka raih dengan susah payah. Setelah sama sekali tidak ada laporan kasus baru sejak awal April dan kasus-kasus lama sudah mengalami pemulihan, penambahan kasus pasca pembukaan lockdown cukup memberi efek kejut bagi negeri tirai bambu ini.

Sebenarnya banyak pelajaran menarik yang bisa ditarik dari apa yang dilakukan China dalam mengatasi virus ini sejak kemunculannya pertama kali di Wuhan. Ditambah lagi bagaimana kesiapsiagaan ditunjukkan untuk mengantisipasi datangnya gelombang kedua.

Bahkan sebelum Pemerintah China mengumumkan akan melakukan tes massal, perusahaan-perusahaan yang akan kembali beroperasi pun berinisiatif menguji semua karyawan sebelum kembali bekerja seperti biasa. Pihak perusahaan khawatir jika ditemukan satu infeksi saja setelah mempekerjakan kembali para karyawan, perusahaan berisiko ditutup.  

Selain tes massal, Pemerintah China juga mulai melakukan survei serologis untuk menentukan skala wabah yang sebenarnya. Survei serologis adalah survei yang dilakukan dengan mendeteksi antibodi pada darah seseorang untuk melihat apakah antibodi yang melawan virus sudah muncul pada sampel darah orang tersebut.

Proyek ini melibatkan para peneliti untuk mengambil sampel darah dari kelompok orang yang dianggap representatif. Para peneliti berusaha melihat apakah mereka telah menghasilkan antibodyi untuk melawan virus, sebagai suatu tanda bahwa mereka terinfeksi virus dalam beberapa kasus. Dengan survei ini akan diketahui skala sebenarnya dari penyebaran virus Covid-19 di China.

Keseriusan pemerintah China dalam mempelajari perkembangan penyebaran virus serta memastikan penambahan kasus baru adalah wujud kesiapsiagaan yang bisa dijadikan pelajaran sebelum melakukan pelonggaran lock down maupun karantina sosial. Pengujian dan pengukuran jumlah kasus baru setelah pelonggaran wajib dilakukan secara ketat demi proses evaluatif dan preventif akan munculnya gelombang kedua.

WHO sendiri sudah mewanti-wanti jika lockdown dibuka terlalu cepat puncak kedua bisa terjadi termasuk di negara-negara yang menunjukkan kasus yang tampak menurun. Direktur Eksekutif Program Kedaruratan Kesehatan WHO, Dr. Mike Ryan mengingatkan tentang fakta penyakit Covid-19 yang bisa melonjak kapan saja. Kita tidak bisa membuat asumsi bahwa penyakit ini akan terus turun hanya karena penyakit ini sedang turun. Ia juga mengingatkan bahwa bisa saja terjadi puncak kedua pada gelombang ini.

Selain China, sebenarnya masih ada beberapa negara yang mulai melonggarkan kebijakan lockdown karena sudah terjadi penurunan kasus. Namun setelah melakukan pelonggaran justru menemukan kasus baru. Korea Selatan merupakan salah satu negara yang dipuji karena proses penanganan kasus Covid-19 yang cepat tanggap.

Mulai dari melakukan pengujian masif dan luas dengan konsep drive thru serta kemampuan tes kepada 15 ribu orang dalam sehari sampai dengan menjalankan kedisiplinan kolektif. Kedisiplinan menerapkan protokol kesehatan seperti social distancing, penutupan kegiatan pertemuan, sekolah, perkantoran, cuci tangan dan penggunaan masker adalah kunci keberhasilan yang Korea Selatan kerjakan.

Namun keberhasilan ini tidak menjamin negara ini terbebas dari ancaman gelombang kedua. Pasca pelonggaran social distancing, kasus baru pun mulai muncul. Seorang pria berusia 29 tahun positif Covid-19 setelah menghadiri tiga klub malam di Seoul. Iran, india, dan jerman juga mengabarkan hal yang sama setelah melonggaran aturan dan pembatasan.

Kasus Indonesia

Sebenarnya terlalu dini untuk membicarakan gelombang kedua di Indonesia karena pada dasarnya penambahan kasus baru masih terjadi secara fluktuatif. Bahkan masih hangat dalam benak kita pada Kamis, (21/5) penambahan kasus baru melonjak menciptakan rekor tertinggi dibandingkan penambahan kasus terdahulu yakni dengan kenaikan 973 orang. Kontributor terbesar adalah Provinsi Jawa Timur dengan peningkatan kasus sebesar 502 orang.

Merujuk ke belakang, beberapa daerah memang pernah mengalami nihil penambahan kasus baru. Namun sayangnya hal itu hanya terjadi satu hari. Sementara esok hari dan lusa kasus baru muncul kembali dalam jumlah yang tidak sedikit.

Provinsi Jawa Barat mengalami nihil kasus baru pada Jumat, (1/5) dan Minggu, (10/5). Namun setelah penurunan pada Jumat, (1/5) esok harinya muncul kembali kasus baru sebanyak 31 kasus. Pada Senin, (11/5), jumlah kasus baru di Provinsi Jawa Barat sebanyak 56 orang.

Sementara bila diperhatikan kasus baru di Provinsi DKI Jakarta juga sempat mengalami penurunan pada Minggu, (3/5) yaitu sebanyak 62 kasus. Tentu saja ketika memperoleh data ini, banyak yang berharap ibu kota yang menjadi epicentrum Covid-19 di Indonesia ini sedang menunjukkan tren penurunan.

Apalagi bila dibandingkan dengan penambahan kasus baru pada seminggu sebelumnya angka ini memang cukup rendah. Penambahan kasus pada hari senin saja mencapai 230 kasus, selasa 115 kasus, rabu 83 kasus, kamis 105 kasus, jumat 145 kasus, dan sabtu 72 kasus.

Namun harapan itu segera pupus karena setelah penurunan kasus baru tersebut ternyata satu hari kemudian kembali terjadi peningkatan kasus baru menjadi 79 kasus. Bahkan esok harinya bertambah lagi menjadi 148 orang.

Informasi terbaru DKI Jakarta juga melaporkan penurunan kasus baru yaitu yang sebelumnya pada Sabtu, (23/5) dengan 127 kasus baru turun menjadi 118 kasus baru pada Minggu, (24/5). Lalu mengalami penurunan kembali pada Senin, (25/5) menjadi 67 kasus dan menurun menjadi 61 kasus pada Selasa, (26/5). Tentu saja kita semua berharap penurunan ini bisa terus terjadi.

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan juga menyatakan kekhawatirannya akan gelombang kedua apabila masyarakat tidak disiplin termasuk untuk tidak kembali ke Jakarta apabila tidak memenuhi ketentuan. Anies juga mengklaim adanya penurunan kasus baru pasca menerapkan PSBB. Ia juga mengatakan bahwa potensi Jakarta memasuki masa transisi menuju normal baru setidaknya bisa dilakukan apabila terjadi penurunan kasus baru di bawah 1 pada 4 Juni mendatang.

Pemerintah memang perlu memperhatikan masukan dari para ahli dan memperhatikan pengalaman negara lain dalam mengantisipasi gelombang kedua. Apa yang dilakukan Pemerintah Cina dengan melakukan tes massal untuk mengetahui sejauh mana ancaman gelombang kedua yang sesungguhnya juga penting dijadikan masukan.

Belum lagi beberapa perusahaan yang berinisiatif melakukan tes kepada semua pekerjanya sebelum memulai kembali perusahaan adalah bukti kesiapsiagaan dan kewaspadaan yang patut dicontoh. Kendati demikian setiap negara tentu memiliki pertimbangan yang berbeda-beda disesuaikan dengan kapasitas dan kultur bangsa itu sendiri.

(JFS/FS)

Referensi:

Bloomberg

Newsweek

BBC

Kontan.co.id

Kompas

Detik.com

Inews

0 Comments

Leave a Reply

More great articles

Ingin Terhindar dari Corona: Cuci Tangan Anda!

Penyebaran Virus Corona yang cepat menjadi perhatian banyak orang. Melakukan pola hidup bersih dan sehat menjadi cara yang ampuh untuk…

Selengkapnya
Makanan Anti Corona Virus

Makanan Anti Virus Corona

Selain social distancing, dan konsumsi vitamin untuk menaikkan daya tahan tubuh, penting bagi kita juga untuk mengkonsumsi beberapa makanan anti…

Selengkapnya

Seputar Ebola, Penyakit yang Serang Kongo di Masa Pandemi COVID-19

Belum usai dengan masalah yang ditimbulkan wabah Covid-19, Republik Demokratik Kongo harus menghadapi wabah virus Ebola. Ini akan menjadi masalah…

Selengkapnya
Arrow-up