COVID-19 di RI

(data per 21 September 2020)
248852
Positif
180797
Sembuh
9677
Meninggal
Pencegahan Info Kasus

Belajar dari Tingginya Kasus Covid-19 di Kota Surabaya

Hellofit

Kota Surabaya menjadi sorotan karena mengalami peningkatan signifikan kasus baru Covid-19. Pasalnya, saat ini terdapat 2.748 kasus terkonfirmasi setelah Pemerintah Kota Surabaya menerapkan tes rapid dan swab secara masif di bebeberapa tempat. Tentu muncul pertanyaan mengapa Pemerintah Kota Surabaya baru melakukan tes massal setelah sekian lama pandemi menyeruak di Indonesia?

Dalam peta sebaran virus Covid-19 oleh Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Jawa Timur, Kota Surabaya diberi warna hitam pekat sejak empat hari terakhir. Peta kota ini unik sendiri dibandingkan daerah lain yang ada di Provinsi Jawa Timur. Warna hitam pekat menandakan bahwa Kota Surabaya menjadi kota paling yang paling tinggi kasus Covid-19 dibanding daerah lain di Jawa Timur.

Pemerintah Kota Surabaya mengakui bahwa besarnya peningkatan kasus Covid-19 di Surabaya memang ditengarai tes rapid dan swab yang dilakukan secara massal. Pelaksanaan tes ini baru dilakukan belakangan karena memang baru memperoleh bantuan alat tes yang sebelumnya masih terbatas di Kota Surabaya.

Alasan ini sama persis dengan alasan yang disampaikan oleh Pemerintah Provinsi Jawa Timur saat provinsi ini mengalami peningkatan kasus baru yang sangat tinggi pada Kamis, (21/5). Provinsi Jawa Timur menjadi kontributor terbesar untuk peningkatan kasus baru secara nasional yakni menyumbang 502 kasus untuk rekor tertinggi kasus baru Indonesia sebanyak 973 kasus. Penyelenggaraan rapid test massal juga diduga sebagai pemicu meningkatnya kasus baru.

Keterlambatan Tes Massal Sebagai Pemicu Peningkatan Kasus Baru?

Penyelengaraan tes massal mungkin menjadi salah satu pemicu peningkatan kasus baru. Namun pertanyaan mendasar yang perlu dijawab adalah mengapa jumlah orang positif Covid-19 di daerah tersebut justru meningkat pesat? Tes massal bisa saja dilakukan namun sama sekali tidak menemukan jumlah kasus baru. Itu artinya tes massal tidak selalu berkaitan dengan peningkatan kasus baru.

Jika pada saat melaksanakan tes massal tidak banyak kasus positif yang ditemukan artinya memang antisipasi penularan yang sudah diterapkan selama ini telah membuahkan hasil. Begitu juga sebaliknya, jika pada saat menyelenggarakan tes massal nyatanya menemukan banyak kasus baru perlu penyelidikan yang mendalam apakah penerapan pembatasan dan protokol kesehatan di daerah tersebut masih belum berjalan secara maksimal.

Epidemiolog dr Dicky Budiman, M.Sc.PH pernah mempertanyakan penerapan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) yang tidak disertai dengan upaya tracing, testing dan isolasi yang maksimal. Menurutnya tiga kata kunci penting sembari menerapkan PSBB tersebut akan sangat berpengaruh pada keberhasilan penaganan wabah Covid-19.

Penerapan tes massal yang dilakukan di ujung bukan di awal justru dapat dikaitkan sebagai alasan peningkatan kasus. Dengan tidak masifnya pelaksanaan tes pada awal kemunculan wabah ini maka upaya tracing dan isolasi juga menjadi kurang maksimal. Dengan kata lain, ada kekurangan dalam upaya preventif dan kecenderungan memilih mengatasi masalah ketika sudah muncul ke permukaan.

Padahal dari temuan kasus baru yang meningkat drastis setidaknya memberikan peringatan kepada kita semua bahwa sedang terjadi fenomena gunung es di mana kasus yang terdata sampai hari ini belum menggambarkan kondisi faktual.

Ketegasan Pemerintah dan Disiplin Kolektif

Belakangan muncul pertanyaan mengapa pada saat penerapan PSBB di Kota Surabaya masih banyak mall yang beroperasi padahal di tempat perbelanjaan rentan terjadi penularan? Pemerintah melalui petugas satuan polisi pamong praja hanya memperingatkan penerapan jaga jarak itupun tanpa upaya pemaksaan. Padahal tidak ada jaminan masyarakat memiliki kepatuhan dan kedisiplinan dalam menerapkan protokol kesehatan.

Di satu sisi ketidaktegasan dalam melakukan pembatasan memberikan peluang bagi masyarakat untuk tidak disiplin melaksanakan protokol kesehatan dan di sisi lain tingkat kepedulian masyarakat terhadap ancaman Covid-19 beragam tergantung pemahaman dan pengetahuan yang dimiliki. Tanpa adanya ketegasan dan pembatasan yang ketat kepedulian ini sulit muncul bagi sebagian orang.

Belum lagi keberadaan orang tanpa gejala (OTG) juga tidak sedikit. Di Jawa Timur saja, jumlah OTG 34% dari jumlah kasus terkonfirmasi. Padahal keberadaan OTG rentan menularkan virus kepada orang lain karena masih banyak orang tidak antisipatif terhadap para OTG. Jika masih banyak orang tidak disiplin menjalankan protokol kesehatan pada saat keluar rumah, penularan virus pun semakin sulit diantisipasi.

Dengan demikian, ada dua poin penting dalam pencegahan penularan Covid-19 agar tidak mengalami penngkatan yang masif yakni ketegasan pemerintah dan kedisiplinan masyarakat. Pemerintah perlu dengan tegas memastikan masyarakat untuk tetap menerapkan protokol kesehatan pada saat beraktivitas di luar rumah. Penerapan jaga jarak dan penggunaan masker perlu dipertegas dengan sanksi sehingga aparat mempunyai dasar yang kuat ketika menertibkan masyarakat yang masih belum menjalankan protokol ini.

Namun sanksi ini juga tidak sepenuhnya mampu mengantisipasi penularan jika tidak diiringi dengan kesadaran dan kedisiplinan masyarakat dalam menerapkan jaga jarak, penggunaan masker dan cuci tangan secara rutin. Kesadaran dan kedisiplinan bisa muncul ketika pemahanan dan pengetahuan masyarakat diperkuat dengan sosialisasi dan ketegasan pemerintah dalam menerapkan pembatasan dan sanksi yang berlaku kepada masyarakat yang melanggar. (JFS/FS)

Referensi:

https://regional.kompas.com/read/2020/06/03/06035751/doni-monardo-ungkap-penyebab-peningkatan-kasus-positif-covid-19-di-surabaya?page=2

https://m.detik.com/news/berita-jawa-timur/d-5029562/psbb-surabaya-raya-jilid-3-mal-tetap-boleh-buka

https://surabaya.liputan6.com/read/4268315/otg-corona-covid-19-capai-34-persen-di-jatim-khofifah-minta-tingkatkan-kewaspadaan

1 Comment

  1. ปั้มไลค์
    July 13, 2020

    Like!! Great article post.Really thank you! Really Cool.

Leave a Reply

More great articles

Ilustrasi vaksin

Perkembangan Penemuan Vaksin Covid-19

Ketua Jaringan Peringatan dan Respons Wabah Global Organisasi Kesehatan Dunia WHO, Dale Fisher memprediksi vaksin Covid-19 kemungkinan baru ditemukan akhir…

Selengkapnya

Epilepsi, Penyakit yang Sering Dianggap Kutukan

Epilepsi merupakan gangguan sistem saraf pusat yang terjadi dalam jangka waktu yang lama umumnya mengakibatkan kejang dan kehilangan kesadaran. Namun…

Selengkapnya

Bikin Segar, Berikut Manfaat Semangka yang Sayang Untuk Dilewatkan

Barangkali buah semangka adalah buah yang paling terkenal karena sering sekali dihidangkan dalam berbagai acara makan. Buah manis dan tinggi…

Selengkapnya
Arrow-up