COVID-19 di RI

(data per 24 November 2020)
506302
Positif
425313
Sembuh
16111
Meninggal
Pencegahan Info Kasus

Panduan Atasi Stres Saat Pandemi COVID-19 Menurut WHO

Hellofit

Baru-baru ini Badan Kesehatan Dunia (WHO) merilis buku panduan dasar keahlian psikososial yang disusun oleh Inter Agency Standing Committee (IASC) untuk membantu setiap orang dalam mengatasi tekanan dan menolong orang lain yang sedang dalam tekanan di lingkup pekerjaan masing-masing.

IASC merupakan forum antar lembaga untuk koordinasi, pengembangan kebijakan dan pengambilan keputusan yang melibatkan mitra kemanusiaan utama PBB dan non-PBB. Berdiri pada Juni 1992 untuk mengembangkan kebijakan kemanusiaan berkaitan dengan bantuan dan prinsip-prinsip kemanusiaan.

Buku ini dapat diakses di laman resmi WHO. Panduan praktis ini penting untuk menjaga kesejahteraan diri dan orang lain yang berhubungan dengan kita selama masa pandemi.

Pandemi Covid-19 memang berdampak besar pada kesehatan mental. Banyak orang merasakan tekanan yang lebih berat dari biasanya mulai dari kekhawatiran akan penularan sampai masalah ekonomi sebagai dampak lanjutan dari pandemi.

Ada banyak saran praktis yang disampaikan seperti menjaga kesejahteraan mental sendiri, berkomunikasi dengan empati, dan membantu orang yang menderita stres atau kesulitan berat.

Gejala stres muncul karena tuntutan baru

Situasi pandemi memungkinkan kita menghadapi banyak hal baru termasuk tuntutan-tuntutan baru seperti misalnya jam kerja yang lebih lama tanpa sumber daya atau perlindungan yang memadai. Kita berhadapan dengan Covid-19 dan stigma serta diskriminasi yang menyertainya.

Khawatir akan keselamatan diri sendiri dan orang-orang yang kita cintai. Melihat, mendengar dan membaca kabar tentang penyakit, penderitaan bahkan kematian. Ada juga yang harus merawat anggota keluarga yang sedang dikarantina.

Sadar tidak sadar tuntutan ini membuat kita stres dan merasa kelelahan. Sering kali kita mulai merasakan beberapa gejala seperti sakit kepala, kesulitan tidur dan tidak nafsu makan. Ada juga yang merasakan kehilangan motivasi untuk bekerja dan beribadah. Ujung-ujungnya mencari pelarian pada penggunaan alkohol dan obat-obatan.  

Emosi pun mulai tak terkontrol. Kita sering merasakan sedih, marah dan ketakutan yang berlebih. Jika sudah merasakan hal-hal seperti ini jangan ragu menghubungi profesional. Setidaknya buku ini memberikan beberapa panduan praktis yang sebaiknya kita lakukan untuk mengatasi tekanan yang ada. Apa yang bisa kita lakukan dalam mengatasi stres menurut IASC?

Menjaga kesejahteraan mental kita sendiri

Setidaknya IASC menganjurkan 5 modul penting yang perlu diketahui untuk menjaga kesejahteraan mental pribadi dan orang lain. Hal itu terdiri dari menjaga kesejahteraan mental diri kita sendiri, komunikasi yang mendukung setiap hari, menawarkan dukungan praktis untuk menolong orang lain, mendukung orang yang mengalami stres, dan turut mendukung dalam aksi untuk situasi tertentu.

Sementara untuk menjaga kesejahteraan mental diri sendiri dapat dilakukan dengan 10 tips yang diberikan oleh IASC. Kita dapat memilih tips mana yang paling sesuai dengan diri kita dan jika masih gagal melakukannya sebaiknya berdamai dengan diri sendiri dan mengulanginya kembali di hari berikutnya. Berikut akan diuraikan 10 tips untuk menjaga kesejahteraan mental diri sendiri:

  1. Tetap mendapatkan informasi terbaru yang akurat tentang Covid-19 dan ikuti langkah-langkah keamanan untuk mencegah infeksi. Beristirahatlah dari akses informasi media tentang Covid-19 jika dibutuhkan.
  2. Makan dengan baik, cukup tidur dan berolahraga secara fisik setiap hari.
  3. Lakukan aktivitas yang disukai atau dianggap bermakna setiap hari. Hal ini bisa meliputi seni, membaca, berdoa, dan berbicara dengan teman.
  4. Luangkan lima menit dari hari yang kita miliki untuk memberikan waktu bagi teman, anggota keluarga atau orang lain yang dianggap bisa dipercaya mengajak kita bicara tentang apa yang kita rasakan
  5. Bicaralah dengan manajer, supervisor atau kolega tentang kesejahteraan di tempat kerja, terutama jika mulai timbul rasa khawatir bekerja dalam masa penanganan Covid-19.
  6. Tetapkan rutinitas harian dan patuhi itu.
  7. Minimalkan penggunaan alkohol, obat-obatan, kafein atau nikotin. Ini sepertinya membantu kita dalam jangka pendek, tetapi dapat mengarahkan kita pada mood rendah, gelisah, susah tidur dan bahkan agresi ketika efeknya hilang. Jika terlalu banyak mengkonsumsi salah satu dari zat ini, kita dapat mengurangi jumlahnya yang tersedia di rumah dan temukan cara lain untuk mengelola stres.
  8. Di akhir setiap hari, buat daftar pendek (di pikiran atau dituliskan di atas kertas) cara yang mampu kita lakukan untuk membantu orang lain atau hal-hal yang sudah kita peroleh dari orang lain dan membuat kita bersyukur, seperti “Saya dapat membantu orang lain dengan tetap bersikap baik kepada orang yang sedang kesal” atau “Saya bersyukur atas dukungan yang sudah saya terima dari teman saya”
  9. Bersikap realistis tentang apa yang bisa dan tidak bisa dikontrol. Visualisasi lingkaran kontrol mungkin membantu dengan ini.
  10. Cobalah kegiatan untuk bersantai. Anda mungkin sudah memiliki aktivitas tersebut dan sudah sering digunakan di masa sekarang atau apa yang pernah dilakukan di masa lalu. Anda juga dapat mencoba menarik napas dan mengeluarkannya secara perlahan, melakukan peregangan, menari, berdoa atau melakukan yoga. (JFS/FS)
Sumber : Inter Agency Standing Committe (IASC)

Referensi:

https://interagencystandingcommittee.org

1 Comment

  1. Pentingkah Imunisasi pada Anak saat Pandemi COVID-19? - Hellofit
    June 6, 2020

    […] COVID-19 saat ini tidak bisa dipungkiri banyak membuat orangtua khawatir, kebingungan dan bertanya apakah […]

Leave a Reply

More great articles

Aturan yang Perlu Diketahui bila Anak Masuk Sekolah di Tengah Pandemi COVID-19

Beberapa daerah sedang memikirkan strategi dan protokol kesehatan yang akan diberlakukan saat masuk sekolah tahun ajaran baru 2020/2021. Salah satu…

Selengkapnya

BPOM Percepat Penelitian Obat dan Jamu Penangkal COVID-19

Badan POM Indonesia menilai potensi keanekaragaman hayati di Indonesia berpeluang besar untuk dikembangkan menjadi produk inovasi guna membatu penanganan pandemi…

Selengkapnya

Usia 45 Tahun Kebawah Bisa Kerja Lagi, Ini yang Harus Diperhatikan

Kepala Gugus Tugas Percepatan Pengendalian Covid-19, Doni Monardo memberikan kebebasan bagi pekerja yang berusia 45 tahun ke bawah untuk beraktivitas…

Selengkapnya
Arrow-up