COVID-19 di RI

(data per 24 November 2020)
506302
Positif
425313
Sembuh
16111
Meninggal
Pencegahan Info Kasus
Rapid Test Antibodi COVID-19

Rapid Test Antibodi COVID-19

Dr. Kezi'ah Wulan Tuerah

Sejak akhir Maret 2020, demi mencegah penyebaran virus corona lebih jauh lagi, Presiden Jokowi memberi imbauan dilakukan skrining awal COVID-19 menggunakan rapid test untuk beberapa wilayah di Indonesia yang dianggap sebagai “red zone” pada waktu itu.

Instruksi tersebut banyak menimbulkan kontroversi dari berbagai pihak, meskipun demikian, sampai hari ini rapid test tersebut banyak digunakan di seluruh Indonesia. Bahkan, untuk melakukan test ini bisa dilakukan melalui drive-through di beberapa rumah sakit. Sudah seperti fast-food guys. Nah, sebelum kalian buru-buru periksakan diri, ayo kenali dulu sebenarnya apa sih test ini?

Pemeriksaan COVID-19

Menurut Centers for Disease Control and Prevention atau CDC, terdapat dua macam pemeriksaan serologi COVID-19 yang tersedia: tes antigen dan tes antibodi.

  • Tes antigen menggunakan sampel dari saluran nafas (biasanya dari hidung) untuk menunjukkan apakah saat ini kita sedang terinfeksi SARS-CoV-2, virus yang menyebabkan COVID-19.
  • Tes antibodi menggunakan sampel darah untuk mendeteksi antibody IgM dan IgG, yang diproduksi tubuh untuk melawan COVID-19. Antibody ini hanya akan terbentuk setelah 1-3 minggu setelah terpapar dengan virus, sehingga tes ini tidak dapat digunakan untuk menunjukkan apakah seseorang saat ini sedang terinfeksi atau tidak.

Berbeda dengan negara tetangga kita, Korea Selatan, mayoritas rapid test yang tersedia di Indonesia adalah tes antibodi. Memang lebih disarankan untuk gunakan rapid test antigen, tetapi karena keterbatasan alat, tenaga, dan biaya di Indonesia, rapid-test antibody tetap digunakan sebagai skrining awal untuk COVID-19. Apakah valid? Iya, asalkan mengikuti step by step yang sudah disediakan.

Prosedur Rapid Test Antibody

Prosedur pemeriksaan dimulai dengan pengambilan sampel darah dari ujung jari, atau di ambil lewat pembuluh darah vena (tergantung alat yang tersedia), yang kemudian diteteskan ke alat rapid test. Selanjutnya, akan diteteskan juga cairan untuk menandai antibodi di tempat yang sama. Hasilnya akan berupa garis yang muncul sekitar 10-15 menit setelahnya.

Interpretasi Hasil Rapid Test Antibody

  • Non Reaktif

Apabila hasil nonreaktif, ada beberapa kemungkinan interpretasi, yaitu;

1. Memang tidak terinfeksi COVID-19,

2. Terinfeksi tetapi belum terbentuk antibodi, atau

3. Immunocompromised (imunitas menurun karena penyakit lain sehingga anitbody tidak terbentuk walaupun terinfeksi). Maka penting untuk di ingat bahwa test non reaktif tidak menyingkirkan kemungkinan infeksi SARS-CoV-2. Maka dari itu, rapid test perlu diulang sekali lagi setelah 7-10 hari.

  • Reaktif

Bila hasilnya reaktif, jangan panik dulu ya Sobatfit, karena terdapat beberapa penyebab, yaitu:

  1. Memang terinfeksi COVID-19,
  2. Infeksi masa lampau, atau
  3. Ada reaksi silang dengan virus lain atau coronavirus jenis lain.

Guna memastikan apakah benar terinfeksi COVID-19, World Health Organization atau WHO merekomendasikan untuk dilakukan tes konfirmasi menggunakan pemeriksaan tes antigen dengan metode PCR, untuk semua hasil rapid yang reaktif.

Siapa saja yang perlu rapid test?

Rapid test sudah tersedia dimana-mana, apakah wajib semua orang periksa? Jelas tidak. Kalian tidak dilarang untuk melakukan pemeriksaan, tetapi kalian pun tidak diwajibkan, kecuali kalian termasuk dalam kategori yang tertera dibawah ini:

  • Orang Tanpa Gejala (OTG): orang yang tidak bergejala dan memiliki risiko tertular dari orang positif COVID-19.
  • Orang dalam Pemantauan (ODP): orang yang mengalami demam atau riwayat demam atau gejalan gangguan sistem pernapasan, dan pada 14 hari terakhir sebelum timbul gejala memiliki riwayat perjalanan atau tinggal di negara/wilayah red zone.
  • Pasien dalam Pengawasan (PDP): secara singkatnya PDP adalah ODP yang telah dilakukan pemeriksaan penunjang dan hasil pemeriksaannya kurang baik
  • Orang-orang yang punya profesi risiko tinggi karena terpaksa harus melakukan kontak dengan banyak orang, seperti: tentara, polisi, pekerja medis, sopir transportasi umum, dan lainnya.

Kesimpulannya, tidak semua orang membutuhkan tes antibodi yang sudah menjamur dimana-mana ini. Rapid-test antibody merupakan skrining awal untuk infeksi COVID-19 dan bukan tes konfirmasi.

Tes konfirmasi yang tesedia saat ini adalah tes antigen PCR, tetapi karena alat untuk melakukan tes ini masih terbatas, tenaga yang sudah di-training juga terbatas, dan biaya yang juga kurang bersahabat. Maka dari itu, disediakan pula rapid test antibody.

Kalian masih bingung? Kalau iya, tidak masalah. Silakan tanyakan ke dokter-dokter kami di Hellofit yang siap membantu kamu melakukan konsultasi online.

dr. Kezi’ah Wulan Tuerah

Baca Juga Artikel terkait COVID-19 lainnya: https://hellofit.id/category/covid-19/

Referensi:

Pedoman Pencegahan Pengendalian Coronavirus Disease (COVID-19). 4th Ed. Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit. Kementerian Kesehatan RI. Indonesia. Maret 2020

https://www.cdc.gov/coronavirus/2019-ncov/symptoms-testing/testing.html

https://rs-jih.co.id/

https://www.who.int/news-room/commentaries/detail/advice-on-the-use-of-point-of-care-immunodiagnostic-tests-for-covid-19

0 Comments

Leave a Reply

More great articles

5 Tips Makan Sehat Saat di Rumah Aja

Salah satu upaya mencegah Covid-19 adalah menjaga daya tahan tubuh agar tetap fit dan sehat. Terdapat beberapa cara untuk meningkatkan…

Selengkapnya

Ahli Ragukan Penemuan Kementan soal Antivirus Covid-19

Kepala Lembaga Biologi Molekuler Eijkman, Profesor Amin Soebandrio mengatakan bahwa belum ada yang mempunyai isolat virus Covid-19 di Indonesia. Hal…

Selengkapnya

Dinilai Sukses Tekan Kasus COVID-19, Bali Belum Terapkan New Normal

Bali merupakan salah satu provinsi yang dipuji karena dinilai mampu menekan kasus baru Covid-19 melalui kearifan lokal. Sebagaimana diketahui selain…

Selengkapnya
Arrow-up