COVID-19 di RI

(data per 25 Oktober 2020)
389712
Positif
313764
Sembuh
13299
Meninggal
Pencegahan Info Kasus
Mengukur Suhu Tubuh Anak - Anak Demam

Demam Tinggi Pada Anak? Jangan Panik!

dr. Dwi Rizki Fadhilah

Ketika mulai memasuki musim penghujan, maka anak-anak akan rentan sekali untuk menderita demam. Apakah Sobatfit pernah kebingungan karena anak atau adik kesayangan Sobatfit mengalami demam tinggi? Takut efek demam tinggi bisa berbahaya bagi anak-anak tapi bingung harus berbuat apa? Punya stok obat demam tapi tidak tau berapa banyak jumlah yang harus diberikan? Penulis akan membantu menjawab pertanyaan Sobatfit melalui artikel ini.

Demam tinggi jangan dianggap sepele apalagi pada anak-anak ya Sobatfit. Demam pada anak menunjukkan adanya suatu masalah dari tubuh anak-anak. Demam bisa menandakan adanya infeksi atau ada kelainan lain pada anak. Semakin kecil usia si anak, maka semakin tidak jelas gejala demamnya.

Berikut hal-hal yang harus Sobatfit lakukan jika ada anak-anak yang demam di sekitar kita:

1. Ukur suhu tubuh anak

Pengukuran suhu dapat dilakukan pada mulut, ketiak, atau dubur.
Pemeriksaan suhu tubuh melalui dubur dilakukan pada anak yang lebih kecil yaitu anak dibawah usia 2 tahun. Ujung thermometer dimasukkan ke dalam dubur sedalam 2-3 cm dan pantat anak dikatupkan. Pemeriksaan dilakukan selama 3 menit. Pengukuran suhu melalui mulut dengan cara meminta anak untuk mengulum ujung thermometer dibawah lidah. Pada saat Gambar dikutip dari: id.pinterest.com pemeriksaan mulut dalam keadaan tertutup. Biasanya pemeriksaan ini dilakukan pada anak yang lebih dewasa dan lebih kooperatif.

Gambar: Mengukur suhu tubuh anak melalui mulut
Dikutip dari http://ramliyana-fisika.blogspot.com/

Pengukuran suhu tubuh melalui ketiak dapat dilakukan pada anak besar yang mempunyai daerah ketiak yang cukup luas. Apabila dilakukan pada anak yang luas ketiaknya lebih sempit dapat terpengaruh dengan suhu luar. Pengukuran dilakukan selama 5 menit. Anak dikatakan demam apabila suhu tubuh melebihi nilai normal yaitu diatas 38oC (nilai normal : 36,5oC – 37,5oC). Penilaian suhu tubuh ini penting sebagai penilaian bagi dokter dan untuk memantau perkembangan demam pada anak. Apabila suhu tubuh anak terlalu tinggi dapat menimbulkan kejang.

2. Menggunakan Kompres Penurun Panas

Tindakan awal apabila Sobatfit menemui anak yang demam adalah terapi kompres. Kompres konvensional dapat dilakukan dengan menggunakan kain atau handuk bersih yang telah dibasahi dengan air hangat. Teknik ini memiliki kekurangan karena tidak praktis. Selain teknik kompres konvensional, saat ini sudah banyak berkembang kompres menggunakan hidrogel atau lebih dikenal dengan istilah plester kompres penurun panas. Contoh plester kompres penurun panas yang banyak beredar adalah Bye Bye Fever, Cooling Gel Patch, Kool Fever, dan masih banyak merk lainnya.

Salah satu merk plester penurun panas
Gambar : Salah satu merk plester penurun panas
Dikutip dari https://tabloidnyata.com/1218-gejala-timbulnya-demam/

Kompres penurun panas ini mengandung air dalam jumlah banyak sehingga dapat menurunkan demam melalui penyerapan energi panas dari tubuh. Selanjutnya akan diteruskan pada molekul air yang ada pada hydrogel lalu terjadi proses penguapan, sehingga terjadi penurunan suhu. Berdasarkan cara kerjanya, maka plester penurun panas tidak perlu melewati proses metabolisme di tubuh sehingga mengurangi efek samping yang berbahaya bagi tubuh.

Terdapat beberapa keuntungan dari penggunaan plester penurun panas yaitu efek samping yang minimal pada anak. Keuntungan lainnya sebagai pencegahan perburukan demam pada anak sehingga dapat mengurangi risiko terapi melalui infus dan mengurangi kemungkinan dirawat di rumah sakit. Penggunaan plester penurun panas ini juga dapat mencegah terjadinya interaksi pengobatan dengan makanan, minuman, maupun obat lain yang sedang dikonsumsi. Pada beberapa anak yang menggunakan plester penurun panas bahkan tidak membutuhkan obat demam melalui oral.

Karena plester penurun panas ini bekerja melalui kulit, apabila terjadi efek samping dapat segera dilepaskan dari kulit. Efek samping yang perlu jadi perhatian adalah munculnya ruam atau bengkak pada tempat pemasangan plester penurun panas. Jika muncul hal seperti ini pada anak, maka untuk penggunaan plester penurun panas selanjutnya harus dikonsultasikan dengan dokter terlebih dahulu.

3. Minum obat penurun panas

Apabila Sobatfit sudah memberikan terapi kompres namun suhu anak belum turun, sebaiknya segera periksakan ke dokter. Terdapat banyak hal yang harus jadi pertimbangan oleh dokter sebelum anak diberikan obat penurun panas. Pertimbangan tersebut berupa keluhan lain yang menyertai demam pada anak, riwayat penyakit terdahulu, usia anak, berat badan anak, dan riwayat alergi terhadap pengobatan.

Pemberian obat harus lebih hati-hati pada anak ya Sobatfit! Pada anak dengan usia yang sama, belum tentu diberikan obat yang sama dan dalam jumlah yang sama pula. Selain itu terdapat beberapa obat yang berbahaya bagi anak berdasarkan usianya.

Stay Healthy! Salam Hellofit!

dr. Dwi Rizki Fadhilah

Baca juga artikel kesehatan lainnya: https://hellofit.id/category/kesehatan/

Sumber:

Farooq SA, Saini V, Singh R, Ahmad S. 2018. Evaluation of Novel Cooling Gel Sheets for Antipyretic Effect

Hoffman SA. 2012. Hydrogels for biomedical applications

Darwis D, Hardiningsih L. 2010. Potensi Hidrogel Polivinil Pirolidon (PVP) – Pati Hasil Iradiasi Gamma Sebagai Plester Penurun Demam

0 Comments

Leave a Reply

More great articles

Menikmati Manfaat Kesehatan dari Semangkuk Sup

Siapa di antara Sobatfit yang suka belanja daging sekaligus dengan tulangnya? Daging merupakan salah satu makanan yang bisa diolah dengan…

Selengkapnya

Lebih Aman Mana? Cuci Tangan VS Pakai Sarung Tangan

Harus diakui, di tengah pandemi Covid-19 masih ada saja perilaku tidak disiplin dalam menerapkan protokol kesehatan selama beraktivitas di luar…

Selengkapnya

Hari Lingkungan Hidup Sedunia, Ini Pentingnya Jaga Alam bagi Kesehatan

Setiap tanggal 5 Juni diperingati sebagai Hari Lingkungan Hidup Sedunia untuk mengingatkan kembali betapa pentingnya alam bagi kehidupan manusia. Makanan…

Selengkapnya
Arrow-up