COVID-19 di RI

(data per 19 Oktober 2020)
365240
Positif
289243
Sembuh
12617
Meninggal
Pencegahan Info Kasus

Mengenal Baby-Led Weaning yang Masih Kontroversi Sejak 2003

Hellofit

Bagi ibu yang memiliki bayi dengan usia menjelang 6 bulan tentu inilah saatnya mempersiapkan perlengkapan bayi untuk memperkenalkan makanan pendamping ASI. Biasanya para ibu mulai mencari-cari referensi tentang teknik pemberian makanan pendamping ASI yang dianjurkan oleh otoritas kesehatan setempat. Sebagaimana diketahui bayi pada usia 6 bulan diperkenankan mengonsumsi makanan padat dengan tetap memberikan ASI setidaknya sampai usia 2 tahun.

Baca Juga: Ketahui Manfaat Zinc untuk tingkatkan sistem imun

Namun beberapa ibu penasaran menggunakan alternatif teknik baby-led weaning untuk mempekernalkan makanan padat pendamping ASI kepada bayi. Teknik ini memang sudah lama diperkenalkan namun pro kontra masih terjadi sampai hari ini. Tentu saja para ibu tidak ingin melakukan uji coba pada bayi sebelum mengetahui potensi manfaat dan kerugian yang bisa ditimbulkan ketika menggunakan teknik ini, bukan?

Apa itu Baby-Led Weaning?

Secara sederhana teknik Baby-Led Weaning merupakan teknik menyapih bayi dengan membiarkan bayi menentukan sendiri makanan yang ingin dimasukkannya ke dalam mulutnya sendiri. Ibu hanya perlu menghidangkan makanan padat di hadapan bayi agar mudah dijangkau. Teknik yang diperkenalkan pertama kali oleh Gill Rapley ini memberikan pilihan kepada bayi, memberikan kesempatan mengeksplorasi dan memutuskan makanan yang akan dimasukkan ke dalam mulut lalu menelannya dengan aman.   

Makanan padat yang diberikan tidak lagi berupa bubur atau makanan halus melainkan langsung memberikan makanan jari yang sudah dipotong-potong sesuai genggaman bayi. Teknik ini tetap menganjurkan untuk tidak berhenti memberikan ASI, perbedaannya hanya pada pemberian makanan jari sejak dini dengan melangkahi pemberian makanan dengan sendok, bentuk puree atau bubur.

Beberapa penelitian menemukan bahwa teknik Baby-Led Weaning yang juga disebut sebagai pemberian makan responsif ini membantu meningkatkan pola makan dengan mengandalkan kemampuan bawaan bayi untuk merespon isyarat lapar dan rasa kenyang. Bayi dapat mengatur sendiri asupan makanannya karena bayi tahu kapan dia harus makan karena lapar dan kapan harus berhenti karena sudah kenyang. Dampaknya juga baik bagi penambahan berat badan yang lebih sehat.

Peran orang tua selama penggunaan teknik ini tetap ada khususnya untuk memastikan bayi tidak memasukkan terlalu banyak ke dalam mulutnya sekaligus. Batasi berapa banyak makanan yang diletakkan di nampan bayi. Dan jangan pernah meninggalkan bayi sendirian saat makan. Teknik ini juga tetap menghindari beberapa jenis makanan yang bisa membuat bayi tersedak seperti popcorn, kismis, anggur utuh, daging yang belum dipotong, buah keras dan mentah, sayuran keras dan mentah. 

Perdebatan

Sebagaimana sudah dikatakan sebelumnya bahwa penggunaan teknik Baby Led Weaning masih menuai pro kontra di antara para ahli dan dokter. Sejak diperkenalkan tahun 2003 hingga hari ini WHO pun masih belum menganjurkan hal ini. Begitu juga dengan para dokter khususnya Ikatan Dokter Anak Indonesia juga belum mengajurkannya.

Perbedaan pendapat seputar Baby Led Weaning meliputi:

  • Kekhawatiran bayi akan tersedak jika langsung diberikan makanan jari sejak dini. Pemberian makanan jari bukan tidak diperkenankan namun perlu memperhatikan waktu pemberian sesuai dengan kesiapan bayi. WHO sendiri baru memperbolehkan pemberian makanan jari ketika bayi berusia 8 bulan.
  • Penggunaan teknik Baby-Led Weaning juga dikhawatirkan memberi kesempatan bayi mengkonsumsi makanan yang disuka saja sementara tidak memenuhi kebutuhan gizi yang seharusnya. Sementara dengan teknik penyapihan tradisional menggunakan sendok dan memberikan makanan yang dihaluskan, memberikan kesempatan kepada orang tua untuk memutuskan sendiri makanan apa saja yang akan dimasukkan ke mulut bayi. Sebagai orang yang jauh lebih mengerti tentang gizi, orang tua dapat mengatur nutrisi yang idealnya dikonsumsi oleh bayi.
  • Menurut beberapa penelitian, bayi yang mengikuti pendekatan menyapih yang dipimpin bayi lebih cenderung kekurangan berat badan dan mungkin berisiko lebih tinggi mengalami kekurangan zat besi karena mereka biasanya tidak makan sereal sarapan atau daging merah yang kaya akan zat besi.

Dr. Cut Nurul Hafifah, Sp.A dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) juga mengutip studi BLISS (Baby-Led Introduction to SolidS, 2017) yang mencoba mengurangi risiko tersedak dengan melakukan modifikasi terhadap metode BLW, yaitu dengan menerapkan beberapa hal berikut:

  1. Memastikan faktor kesiapan dan keamanan bagi bayi:
  • Posisi bayi harus sudah menegakkan dada dan selama proses makan dapat mempertahankan posisi tersebut
  • Bayi harus selalu didampingi saat pemberian makan
  • Memperkenalkan makanan yang cukup dapat digenggam oleh bayi (biasanya dalam bentuk finger food; makanan seukuran jari orang dewasa)
  • Pastikan makanan cukup lembut sehingga mudah hancur di mulut
  • Hindari makanan yang berisiko menyebabkan tersedak, yaitu makanan berbentuk koin, seperti kacang, popcorn, buah anggur, dan lainnya
  1. Perkenalkan berbagai macam makanan
  2. Ajak bayi makan bersama dengan anggota keluarga lain
  3. Hindari makanan cepat saji atau mengandung banyak gula dan garam

Bagaimana pun, WHO hanya menganjurkan bahwa sebaiknya anak diberikan makanan secara bertahap sejak 6 bulan. Mulai dari tekstur yang lembut hingga kasar dan akhirnya makanan keluarga.

Menyesuaikan kebutuhan nutrisi anak dan mempertimbangkan kerentanan organ anka yang masih belum sempurna karena dalam proses pertumbuhan juga lebih penting. Setelah membaca penjelasan di atas sebaiknya para ibu lebih bijak lagi dalam memilih teknik penyapihan bagi bayi yang baru saja beralih mengkonsumsi makanan padat. Selain itu, berkonsultasi dengan dokter sebelum mengambil keputusan adalah pilihan paling bijak agar tidak salah mengambil keputusan.

(JFS/FS)

Referensi:

https://www.bbcgoodfood.com/howto/guide/what-baby-led-weaning

https://www.webmd.com/parenting/baby/features/baby-led-weaning-food#1https://www.who.int/nutrition/publications/guiding_principles_compfeeding_breastfed.pdf

https://www.idai.or.id/artikel/klinik/pengasuhan-anak/betulkah-baby-led-weaning-lebih-baik

https://www.who.int/nutrition/publications/guiding_principles_compfeeding_breastfed.pdf

0 Comments

Leave a Reply

More great articles

Belajar dari Tingginya Kasus Covid-19 di Kota Surabaya

Kota Surabaya menjadi sorotan karena mengalami peningkatan signifikan kasus baru Covid-19. Pasalnya, saat ini terdapat 2.748 kasus terkonfirmasi setelah Pemerintah…

Selengkapnya
Ilustrasi vitamin

Sumber Vitamin C dan E yang Mudah Dicari

Vitamin C dan E cukup banyak diburu bahkan sempat langka di pasaran karena dianggap mampu mempertahankan daya tahan tubuh. Padahal…

Selengkapnya
Gondongan

Apakah Gondongan Berbahaya?

Parotitis atau gondongan adalah penyakit akibat infeksi virus yang menyebabkan pembengkakan pada kelenjar liur dalam mulut yang terletak di bagian…

Selengkapnya
Arrow-up