COVID-19 di RI

(data per 25 Oktober 2020)
389712
Positif
313764
Sembuh
13299
Meninggal
Pencegahan Info Kasus
Preeklampsia - kehamilan Pregnant

Preeklampsia Perenggut Nyawa Ibu dan Janin, Seberapa Bahayakah?

dr. Thomas A Husada

Preeklampsia merupakan satu diantara tiga penyebab utama kematian serta penyakit pada bayi dan ibu hamil di seluruh dunia, disamping perdarahan dan infeksi. Penyakit ini juga disebut keracunan kehamilan. Preeklampsia bisa muncul kapanpun, bisa muncul ketika kandungan memasuki usia lebih dari 20 minggu atau ketika kandungan berusia 9 bulan bahkan kondisi ini bisa terjadi menjelang persalinan.

Preeklampsia terjadi karena kondisi plasenta yang tidak tertanam dengan baik, kekurangan oksigen, atau adanya gangguan di pembuluh darah si ibu. Penyebab preeklampsia dianggap sebagai maladaptation syndrome, yaitu kondisi yang terjadi akibat penyempitan pembuluh darah yang mengakibatkan kurangnya pasokan darah yang membawa nutrisi ke janin.

Selain itu penyebab preeklampsia dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu tekanan darah tinggi, obesitas, Kehamilan pertama, kehamilan kembar, riwayat Keluarga dengan preeklampsia, Preeklampsia pada kehamilan sebelumnya, Ibu hamil kurang dari 20 tahun atau lebih dari 35 tahun dan wanita dengan gangguan fungsi organ, seperti diabetes, penyakit ginjal.

Ibu hamil yang menderita penyakit preeklampsia biasanya mengalami gejala seperti:

  1. Tekanan darah lebih dari 140/90 mmHg. Meskipun ibu hamil sebelumnya tidak memiliki riwayat tekanan darah tinggi.
  2. Adanya protein dalam urine. Hal ini dapat terjadi karena adanya masalah pada ginjal yang menyebabkan protein penting dalam darah ibu bocor ke urine, sehingga menghasilkan protein dalam urine (proteinuria).
  3. Kenaikan badan drastis yang disebabkan oleh peningkatan cairan di dalam tubuh yang signifikan. Yaitu kenaikan berat badan 1 kg dalam hitungan satu minggu, yang mengakibatkan obesitas.
  4. Sakit kepala Akut. Seperti sakit kepala hingga membuat kehilangan keseimbangan atau koordinasi gerak tubuh, sakit kepala yang muncul tiba-tiba dan terasa sangat berat. Sakit kepala disertai gejalagejala lain, seperti kebingungan, hilang kesadaran atau pingsan, pusing, muntah, mual, leher kaku, dan/atau demam.
  5. Perubahan Refleks pada bayi, seperti bayi lebih aktif bergerak atau bahkan cenderung pasif.
  6. Pembengkakan dimata, tangan, kaki, dan wajah ibu hamil.
  7. Nyeri perut terutama di sisi kanan atas.
  8. Penurunan jumlah urine, sering buang air kecil tapi urine tidak keluar.

Beberapa kondisi diatas dapat mengindikasikan ibu hamil mengalami preeklampsia. Perlu diketahui, kondisi preeklampsia yang tidak mendapatkan penanganan medis dengan cepat akan mungkin membuat kondisi ini berkembang lebih lanjut pada tahapan yang berbahaya yakni resiko Kematian ibu dan bayi yang dikandungnya. Mengapa hal terebut bisa terjadi?

Bahaya Preeklampsia Bagi Janin Dalam Kandungan

Preeklampsia menyebabkan plasenta gagal membenamkan dirinya ke dinding rahim, hal ini mengakibatkan Perkembangan janin akan terhambat karena penyumbatan plasenta menghambat nutrisi dan vitamin yang dibutuhkan oleh si jabang bayi. preeklampsia pada ibu hamil bisa membuat bayi berisiko terkena penyakit tertentu. Ini disebabkan karena janin harus bertahan dengan pasokan nutrisi yang terbatas sewaktu di dalam kandungan yang dapat mengakibatkan kematian pada bayi di dalam kandungan.

Janin tidak mendapatkan cairan amniotik ( air ketuban) yang ia perlukan agar janin aman dalam kandungan sebagai ruang gerak dalam janin agar terhindar dari guncangan. Bahkan penyumbatan plasenta ini bisa memicu lepasnya plasenta dari dinding rahim (Placental Abruption) yang menyebabkan janin lahir prematur.

Kelahiran prematur sebagai konsekuensinya berbagai organ vital, termasuk otak dan paru-paru, serta proses peningkatan berat badan janin belum terbentuk secara sempurna. Oleh karena itu, bayi yang lahir prematur berisiko mengalami gangguan kesehatan sehingga meningkatkan resiko kematian dan berdampak pada masa yang akan datang.

Bahaya Preeklampsia Bagi Ibu Hamil

Preeklampsia menyebabkan Sindrom antifosfolipid adalah gangguan autoimun yang menyebabkan darah jadi mudah membeku dan menggumpal. Hal ini yang menyebabkan gumpalan darah terbentuk di dalam arteri (pembuluh nadi) dan vena (pembuluh yang membawa darah menuju jantung). Arteri dan vena berperan sangat penting dalam proses sirkulasi darah di tubuh, akibat gumpalan darah tersebut maka sirkulasi darah akan terhambat dan menyebabkan kematian.

Preeklampsia menyebabkan Gangguan pada sistem urine, yaitu proteinuria (ditemukannya protein di dalam urin), dan terjadinya oliguria kondisi dimana urine yang Anda keluarkan lebih sedikit dari kondisi normal hal ini mengakibatkan gangguan pada Ginjal.

Preeklampsia menghambat sistem kardiovaskuler yang merupakan organ sirkulsi darah. terdiri dari jantung, komponen darah dan pembuluh darah yang berfungsi memberikan dan mengalirkan suplai oksigen dan nutrisi keseluruh jaringan tubuh. hal ini mengakibatkan terhambatnya proses metabolisme tubuh. Nyeri dada, kesulitan bernafas, penurunan oksigen ditubuh, serangan jantung, terjadinya edema paru, dan kerusakan fungsi hati dapat terjadi akibat preeklampsia.

Preeklampsia berpeluang mengakibatkan terjadinya sindrom HELLP (hemolisis, peningkatan enzim hati, jumlah trombosit rendah) hal ini biasanya ditandai dengan sakit kepala, mual, muntah, lemas, merasa tidak enak badan, bengkak pada wajah atau lengan, berat badan bertambah, nyeri pada perut bagian kanan-atas, perdarahan, hingga kejang. Komplikasi HELPP yang tergolong serius dapat mengakibatkan Solusio plasenta, yaitu kondisi di mana plasenta terlepas sebagian atau seluruhnya dari dinding rahim sebelum waktu persalinan tiba.

Pada kasus yang lebih parah, preklampsia dapat berubah menjadi eklampsia yaitu masalah serius pada masa kehamilan akhir yang ditandai dengan kejang tonik-klonik atau bahkan koma.Kejang tonik klonik menyebabkan kontraksi otot seluruh tubuh yang keras atau kasar, dan disertai dengan hilangnya kesadaran.

Mengingat bahwa ada banyak risiko yang bisa ditimbulkan ketika seorang ibu hamil mengalami preeklampsia, maka penting sekali untuk melakukan pencegahan demi keselamatan ibu dan janin yang dikandungnya, upaya pencegahan preeklampsia dapat dilakukan dengan:

  1. Memeriksaan kehamilan yang teratur, terutama di Minggu ke-4 sampai ke-28 sebulan sekali, Minggu ke-28 sampai ke-36: 2 minggu sekali, Minggu ke-36 sampai ke-40 seminggu sekali.
  2. Melakukan serangkaian pemeriksaan seperti pemeriksaan tes darah, Pemeriksaan ini dilakukan untuk melihat fungsi ginjal, hati, serta penggumpalan darah. USG, Perkembangan bayi akan diawasi secara cermat untuk melihat apakah bayi tumbuh dengan baik dan Pemeriksaan detak jantung bayi.

    Jika diperlukan, dokter mungkin akan melakukan tes urine untuk mengetahui apakah terdapat kandungan protein dalam urine Anda. Adanya protein dalam urine merupakan salah satu tanda komplikasi preeklampsia.
  3. Diet rendah garam, dengan menjalankan diet rendah garam dapat mengurangi risiko terjadinya berbagai penyakit. Karena asupan garam yang terlalu tinggi berisiko menyebabkan hipertensi, yang kemudian dapat mengakibatkan gangguan jantung dan stroke.
  4. Pemberian diuretik, diuretik umumnya digunakan untuk mengobati penyakit yang menyebabkan terjadinya penumpukan cairan dalam tubuh (edema). Selain itu, diuretik juga efektif dalam mengobati darah tinggi atau hipertensi.
  5. Berhati-hati dalam memilih asupan makanan yang akan dikonsumsi. Hal ini dikarenakan setiap makanan yang Anda konsumsi akan diserap oleh janin sebagai nutrisi untuk tumbuh kembangnya. Jika perlu, asupan nutrisi tambahan bisa didapatkan dari suplemen prenatal yang diresepkan oleh dokter seperti suplementasi Vitamin, asam folat, Magnesium, Kalsium, dan Minyak Ikan.
  6. Melakukan 8 gerakan olahraga sehat bagi ibu hamil yang bisa dilakukan dirumah yaitu squat (jongkok berdiri), berjalan kaki, mengangkat dan memiringkan panggul, duduk di bola yoga, mencondongkan badan berpegangan pada obyek, peregangan paha dan telapak kaki, naik tangga, merentangakn satu kaki dan menekuk kaki lainnya, namun hal ini tetap disesuaikan dengan kondisi ibu hamil.

Dengan demikian, ibu hamil wajib memperhatikan kesehatan demi keselamatan ibu dan janin yang dikandungnya dengan mengkonsumsi makanan yang bergizi, kurangi konsumsi makanan berlemak serta mengandung garam yang tinggi, serta istirahat yang cukup. Lakukan pemeriksaan rutin kepada dokter kandungan setiap bulan agar perkembangan bayi serta tekanan darah ibu dapat terpantau. Hindari penggunaan obat tanpa resep dokter agar dosis terjaga dan tidak membahayakan janin dan ibu hamil, dan Silahkan berkonsultasi di hellofit sebagai media kesehatan anda.

Salam Sehat Hellofit!

dr. Thomas Alfa Husada

RS Kartini Rangkasbitung Lebak -Banten

Baca juga artikel kesehatan lainnya: https://hellofit.id/category/kesehatan/

Referensi

Yulaikhah, Lily. 2006. Kehamilan Seri Asuhan Kebidanan. Jakarta : EGC

Wijaya, Sheila. 2015. Sinyal Bahaya Dari Tubuh. Yogyakarta : Flashbook.

Asdie, Ahmad. 1995. Prinsip – Prinsip Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta : EGC

Pre-Eclampsia and Eclampsia: Articles from Journal of Cardiovascular Development and Disease are provided here courtesy of Multidisciplinary Digital Publishing Institute (MDPI) https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC5872351/.

Labib Ghulmiyyah. Maternal Mortality From Preeclampsia/Eclampsia. Author links open https://www.sciencedirect.com/science/article/abs/pii/S0146000511001571?via%3Dihub.

https://www.pregnancyrelated.com/safe-exercises-to-induce-labor-naturally/

1 Comment

  1. Teguh Iw
    August 4, 2020

    pre ekalmpsia itu kondisi kesehatan beresiko tinggi. harus ada pemantauan terus menerus agar kesehatan ibu dan janin terjaga.

Leave a Reply

More great articles

Penggunaan Tisu Magic untuk Berhubungan Seksual, Aman atau Malah Berbahaya?

Hampir semua pria ingin meningkatkan kualitas berhubungan seksualnya. Tidak heran banyak sekali yang mencoba berbagai macam cara untuk menjaga stamina…

Selengkapnya

Bayi Jarang BAB, Kapan Ibu Perlu Khawatir?

Buang air besar pada bayi menjadi perkara besar bagi seorang ibu baru. Kekhawatiran akan segera muncul tatkala bayi tidak buang…

Selengkapnya

Tren Bersepeda di Masa New Normal dapat Cegah Osteoporosis

Bersepeda menjadi tren olahraga yang asik dan menyenangkan serta banyak dipilih oleh masyarakat indonesia dimasa New Normal Pandemi Covid-19. Penggunaan…

Selengkapnya
Arrow-up