COVID-19 di RI

(data per 21 September 2020)
248852
Positif
180797
Sembuh
9677
Meninggal
Pencegahan Info Kasus

Pulse Oximeter: Apakah Perlu untuk Bantu Mendeteksi COVID-19?

Dr. Kezi'ah Wulan Tuerah

Akibat pandemi COVID-19, beberapa peralatan medis yang sebelumnya tidak begitu populer di kalangan masyarakat menjadi lebih dikenal dan dibeli dalam jumlah besar, seperti masker medis, sarung tangan latex, alkohol 70%, hingga termometer. Nah, salah satu barang lain yang sudah mulai ikutan terkenal di negara tetangga, Amerika Serikat, adalah pulse oximeter.

Baca Juga: Tips Travelling di Era New Normal

Pulse oximeter bukanlah sesuatu yang baru dalam dunia medis. Ada bentuk portable dan bisa dibawa kemana-mana, dan ada juga yang tersambung dengan mesin-mesin besar di rumah sakit. Banyak mahasiswa kedokteran dan para pekerja medis sering membawa alat kecil ini untuk memeriksa kadar oksigen dan denyut nadi pasien. Alat ini juga sering dimiliki oleh pasien-pasien dengan masalah paru-paru atau jantung untuk memantau kadar oksigen saat di rumah.

Saat ini, banyak muncul berdebatan dalam dunia medis tentang apakah pulse oximeter ini seharusnya dimiliki setiap keluarga sebagai bagian dari kotak pertolongan pertama (P3K) mereka. Seorang dokter spesialis paru di Yale Medicine, dr. Densye Lutchmansingh, mengatakan, “Pada keadaan normal, kecuali seseorang memiliki penyakit paru-paru, pulse oximeter tidak dibutuhkan untuk memonitor diri.”

Menurut beliau, pulse oximeter hanya akan berguna bagi pasien yang memiliki gejala-gejala khas COVID-19.

Di pihak lain, dr.Richard Levitan seorang dokter IGD, mengatakan bahwa mendeteksi silent hypoxia atau hipoksia sunyi secara dini dengan menggunakan pulse oximeter, akan sangat berguna dan membantu baik penderita itu sendiri, maupun tenaga medis.

Yuk, Sobatfit, kita simak dan pelajari lebih lanjut kenapa dr.Levitan mengatakan hal tersebut?

Silent Hypoxia

Salah satu gejala yang menonjol dari COVID-19 adalah sesak nafas. Biasanya disertai juga dengan batuk, sakit tenggorokan, atau demam. Meskipun terdengar sederhana, sesak nafas bukanlah gejala yang mudah untuk di sadari sendiri oleh masyarakat awam. Dalam keadaan normal, bila seseorang kekurangan oksigen dalam darah, maka dapat muncul beberapa gejala yang jelas seperti, sesak, nyeri dada, napas yang tersengal-sengal, kebingungan, kegelisahan, sakit kepala atau kepala ringan hingga ingin pingsan.

Namun, adakalanya pasien merasa sesak meskipun kadar oksigen dalam tubuhnya cukup,
karena tidak semua perasaan sesak disebabkan oleh sistem pernapasan. Beberapa dokter dan peneliti melaporkan bahwa penderita COVID-19 dapat mengalami suatu kondisi
yang tidak lazim, yaitu silent hypoxia atau hipoksia sunyi – “sunyi” karena terjadi secara mendadak namun sulit untuk di deteksi.

Silent hypoxia adalah kondisi dimana tubuh kekurangan oksigen, namun tidak menimbulkan gejala apapun. Penderita akan tampak nyaman dan sehat, bahkan pada beberapa kasus masih tetap beraktivitas dan bekerja seperti biasa, namun ternyata kadar oksigen sudah jauh di bawah normal. Sehingga keadaan hipoksia baru akan terdeteksi setelah pasien sudah dalam kondisi kritis, dan membutuhkan ventilator.

Menurut dr. Richard Levitan, beliau menemukan banyak penderita COVID-19 yang memiliki saturasi oksigen yang sangat rendah saat mereka datang ke IGD, namun mereka masih bisa main handphone, dan bicara seperti biasa. Walaupun napas mereka cepat, mereka tidak tampak gelisah, tetapi kadar oksigen mereka rendah, dan hasil rontgen dada mereka jelek. Dr. Levithan mengatakan bahwa virus corona ini menyerang sel-sel paru yang bertugas dalam pembuatan cairan surfaktan.

Cairan ini bertugas untuk memastikan kantong-kantong udara dalam paru untuk tetap terbuka saat bernafas normal. Saat terinfeksi COVID-19, kantong-kantong udara ini runtuh dan kadar oksigen menurun. Pada tahap awal, paru masih dapat berkompensasi sehingga kadar karbon dioksida dalam darah tidak meningkat. Tanpa adanya penumpukan karbon dioksida dalam darah, penderita COVID-19 tidak akan merasakan sesak napas.

Kompensasi ini dilakukan tubuh kita dengan cara bernapas lebih cepat dan lebih dalam, namun penderita pun biasanya tidak menyadari hal tersebut. Lama-kelamaan, silent hypoxia ini akan membuat lebih banyak kantong-kantong udara runtuh, dan kadar oksigen semakin menurun. Sekitar 20 persen dari penderita COVID-19 kemudian masuk ke dalam fase yang berbahaya, yaitu penumpukan cairan di paru-paru, paru-paru menjadi kaku, karbon dioksida meningkat, dan penderita jadi mengalami gagal napas akut, yang dalam istilah medis disebut Acute Respiratory Distress Syndrome (ARDS).

Pada waktu sudah muncul keluhan sesak nafas berat dan penderita datang ke rumah sakit dengan saturasi oksigen yang sangat rendah, maka kemungkinan besar penderita membutuhkan ventilator. Meskipun sudah tersambung dengan ventilator, prognosis atau harapan hidup penderita tersebut sudah tidak optimal.

Jumlah ventilator di seluruh Indonesia pun sangat terbatas, dan penderita yang terpasang pada ventilator akan membutuhkan perhatian dan usaha perawatan yang lebih intensif dari pekerja medis. Sehingga, meskipun tersedia ventilator, menghindari penggunaannya adalah suatu keuntungan bagi kedua pihak, baik penderita itu sendiri maupun sistem kesehatan.

Maka dari itu, dr.Levitan menyarankan untuk penggunaan pulse oximeter di rumah, baik untuk yang ada keluhan COVID-19, maupun yang tidak ada keluhan. Menurut beliau, pulse oximeter ini bisa digunakan untuk skrining pasien-pasien yang terinfeksi COVID-19. Namun, harus tetap diingat bahwa tidak semua silent hypoxia disebabkan oleh COVID-19. Jadi, apabila saturasi oksigen menurun, di sarankan sebaiknya langsung berobat ke rumah sakit untuk pemeriksaan lebih lanjut.

Apa itu pulse oximeter dan bagaimana cara kerjanya?

Pulse oximeter adalah sebuah alat elektronik kecil yang bentuknya seperti jepitan baju besar, dan biasanya di jepitkan pada jari tangan, jari kaki, atau ujung daun telinga. Dengan menggunakan lampu merah dan infrared, alat ini dapat mendeteksi kadar oksigen yang beredar dalam pembuluh darah.

Oksigen yang masuk melalui hidung, paru-paru, dan kemudian ke dalam pembuluh darah akan berikatan dengan hemoglobin, untuk dibawa ke seluruh bagian tubuh yang lain. Bisa dianggap bahwa hemoglobin adalah mobil yang memuat penumpang, yakni oksigen, dan pembuluh darah adalah jalan tol. Mobil yang memiliki penumpang disebut hemoglobin teroksigenasi dan yang tidak membawa penumpang adalah hemoglobin tidak teroksigenasi.

Bagian atas pulse oximeter memancarkan dua gelombang, gelombang cahaya merah dan gelombang cahaya infrared. Hemoglobin yang teroksigenasi akan menyerap lebih banyak cahaya infrared, sedangkan hemoglobin yang tidak teroksigenasi akan menyerap lebih banyak cahaya merah. Kemudian monitor di bagian bawah akan mendeteksi kadar masing-masing cahaya yang terserap, sehingga akan terlihat berapa persen mobil (hemoglobin) di jalan tol (pembuluh darah) yang berpenumpang (teroksigenisasi).

Itulah yang disebut dengan saturasi oksigen atau perkiraan kadar oksigen dalam tubuh
kita.Saturasi oksigen yang dianggap normal adalah 94-100%. Selain saturasi oksigen, pulse oximeter juga akan menunjukkan kecepatan detak jantung kita, atau yang disebut denyut nadi. Nadi normal untuk orang dewasa adalah 60-100 kali per menit. Dalam dunia medis, memang masih ada cara lain untuk memeriksa kadar oksigen dalam darah yang lebih akurat. Namun, penggunaan pulse oximeter adalah cara paling praktis yang dapat dilakukan diluar institusi medis.

Jadi apakah sebaiknya Sobatfit juga membeli pulse oximeter?

Penulis setuju dengan dr. Levithan, bahwa sebaiknya setiap keluarga memiliki pulse oximeter sendiri di rumah. Sama saja seperti termometer untuk monitor suhu tubuh, ada baiknya Sobatfit pun dapat memonitor saturasi oksigen sendiri pada era New Normal ini. Selain harganya yang terjangkau, mudah ditemukan, dan sangat mudah untuk digunakan, adanya pulse oximeter dirumah akan membantu Sobatfit memantau diri sendiri dan keluarga, bahkan juga akan membantu sistem kesehatan negara kita secara keseluruhan. Bila di kemudian hari, Sobatfit bingung dengan hasil pembacaan saturasi oksigen yang muncul atau memiliki pertanyaan lebih lanjut tentang pulse oximeter, silakan konsultasi kepada dokter-dokter kece di Hellofit!

Stay fit with Hellofit!

dr. Kezi’ah Wulan Tuerah

Siloam Hospitals Jember
Interest: Pulmonology, Neurology

Referensi:
https://www.yalemedicine.org/stories/covid-pulse-oximeter/

https://www.england.nhs.uk/coronavirus/wp-content/uploads/sites/52/2020/06/C0445-remote-
monitoring-in-primary-care.pdf

https://medicine.uiowa.edu/iowaprotocols/pulse-oximetry-basic-principles-and-interpretation

https://www.nationalgeographic.com/science/2020/05/they-do-not-struggle-to-breathe-but-
coronavirus-starves-them-of-oxygen-cvd/

1 Comment

  1. dr. Yohanes Tjandra
    July 18, 2020

    Usul dok, Happy Hypoxia, segera konsul Anestesi untuk penentuan penggunaan manajemen Oksigenasi

Leave a Reply

More great articles

Whitening Spray - aman

Instan Whitening Spray, Sekali Semprot Kulit Glowing! Amankah??

Bagi sebagian orang berasumsi bahwa kulit yang putih merupakan sebuah standar kecantikan. Terutama bagi wanita, Pemikiran yang salah ini kerap…

Selengkapnya

Manfaat Jalan Kaki Sebagai Rutinitas Setiap Hari

Masa pandemi memang memberikan kesempatan lebih banyak untuk berolahraga mulai dari yang berat hingga yang ringan. Orang memilih melakukan olahraga…

Selengkapnya

Muncul di Instagram UNICEF, Ini Pesan Nicholas Saputra Tentang Kesehatan Mental Anak

Organisasi PBB UNICEF mengunggah sebuah pesan video tentang kesehatan mental saat pandemi Covid-19 di akun instagramnya. Menariknya penyampai pesan ini…

Selengkapnya
Arrow-up