COVID-19 di RI

(data per 19 Oktober 2020)
365240
Positif
289243
Sembuh
12617
Meninggal
Pencegahan Info Kasus
Temper Tantrum pada Anak

Temper Tantrum pada Anak? Worry no More!

dr. Dwi Rizki Fadhilah

Temper Tantrum pada Anak

Apakah Sobatfit sudah ada yang menyandang status sebagai papa dan mama muda? Atau mungkin masih dalam perencanaan untuk memiliki anak? Banyak yang bilang punya anak itu sulit ya. Yaah.. omongan orang-orang tidak sepenuhnya salah sih, tapi jangan ngerasa insecure dulu ya Sobatfit! Kalau kita tau bagaimana perkembangan anak dan tindakan apa yang harus kita lakukan, semuanya pasti jadi lebih mudah.

Salah satu tantangan yang cukup berat dalam memiliki anak bagi orang tua baru yaitu menghadapi anak-anak dengan luapan emosi seperti menangis keras-keras, berteriak, memukul, atau perilaku kasar lainnya. Apalagi kalau perilaku tersebut dilakukan di tempat keramaian. Waduh, pasti Sobatfit akan merasa malu atau malah kesal dan pengennya si anak segera diam. Apa aja nih yang udah pernah Sobatfit lakukan ketika hal itu terjadi? Memarahi balik atau malah mengikuti apa yang si anak inginkan?

Perilaku amarah yang ditunjukkan anak-anak pada usia prasekolah dinamakan Tantrum atau Temper Tantrum. Tantrum disebabkan karena keterbatasan anak-anak dalam mengungkapkan emosinya melalui kata-kata. Namun harus hati-hati memilih sikap yang tepat untuk mengatasi tantrum ini ya Sobatfit. Apabila Sobatfit memilih untuk memarahi anak saat terjadi tantrum, maka kedepannya anak tidak akan memiliki keberanian untuk menyampaikan emosi yang dirasakan, sehingga anak cendrung menjadi anak yang tertutup. Tetapi apabila Sobatfit memilih untuk mengikuti apa yang diinginkan oleh anak, hal ini menyebabkan anak belajar bahwa dengan perilaku tantrum ia akan mendapatkan hal yang ia inginkan. Kebiasaan tantrum dapat berlanjut hingga anak dewasa lho Sobatfit. Jadi sebaiknya apa yang dilakukan ketika menghadapi tantrum pada anak? Mari kita bahas secara detail.

Temper Tantrum terjadi secara alamiah pada anak-anak usia prasekolah. Hal ini terjadi karena anak sudah mulai memiliki perasaan untuk menginginkan sesuatu namun belum memiliki kemampuan untuk memenuhi keinginan mereka secara tepat. Tantrum pertama kali dapat terjadi pada usia 12-15 bulan ketika anak menjadi lebih aktif bergerak, mulai mengetahui apa yang ia inginkan dan tidak inginkan, serta mulai mengenali objek. Tantrum mencapai puncaknya pada usia 18-36 bulan. Pada saat ini biasanya orang tua dan guru mulai melihat peningkatan intensitas, frekuensi, dan durasi tantrum. Beberapa anak dapat mengalami tantrum dalam episode yang cukup singkat (10-15 detik), namun beberapa dapat memanjang menjadi 1 hingga 2 jam.

Anak dengan usia yang lebih kecil biasanya menggunakan tantrum untuk mengekspresikan rasa frustasi mereka. Contohnya ketika anak-anak menginginkan perhatian, menginginkan suatu benda, atau untuk menghindar dari kegiatan yang tidak diinginkan (contoh: waktu tidur atau waktu makan). Setelah anak melewati usia 3 tahun dan kemampuan bicara berkembang, kebiasaan tantrum pada anak juga akan semakin berkurang. Namun demikian, tantrum masih dapat terjadi di usia yang lebih dewasa dengan terdapatnya peningkatan pola tantrum (misalnya berteriak, mengata-ngatai, atau membanting pintu). Apabila anak belajar bahwa tantrum merupakan cara yang efektif untuk mendapatkan sesuatu atau menghindari hal yang tidak diinginkan oleh anak, maka tantrum akan menjadi masalah yang cukup besar yang akan dihadapi oleh orangtua dan guru.v

Anak dengan usia yang lebih kecil biasanya menggunakan tantrum untuk mengekspresikan rasa frustasi mereka. Contohnya ketika anak-anak menginginkan perhatian, menginginkan suatu benda, atau untuk menghindar dari kegiatan yang tidak diinginkan (contoh: waktu tidur atau waktu makan). Setelah anak melewati usia 3 tahun dan kemampuan bicara berkembang, kebiasaan tantrum pada anak juga akan semakin berkurang. Namun demikian, tantrum masih dapat terjadi di usia yang lebih dewasa dengan terdapatnya peningkatan pola tantrum (misalnya berteriak, mengata-ngatai, atau membanting pintu). Apabila anak belajar bahwa tantrum merupakan cara yang efektif untuk mendapatkan sesuatu atau menghindari hal yang tidak diinginkan oleh anak, maka tantrum akan menjadi masalah yang cukup besar yang akan dihadapi oleh orangtua dan guru.

Pencegahan temper tantrum sebaiknya dilakukan sejak usia dini, beberapa hal yang dapat Sobatfit lakukan:

  1. Buat jadwal

    Jadwal yang konsisten memungkinkan anak-anak mengetahui perubahan jadwal mereka sehingga anak dapat menyesuaikan jadwal tanpa didahului dengan perilaku tantrum. Bukan berarti anak-anak harus mengikuti jadwal dengan ketat, tapi tujuannya agar anak-anak mengenal beberapa hal yang terjadi di waktu tertentu setiap harinya. Misalnya waktu tidur, waktu makan, dan lain-lain.
  2. Berikan peringatan dan pemberitahuan

    Ketika akan ada perubahan aktivitas pada anak, maka orang tua sebaiknya memberikan pemberitahuan terlebih dahulu, seperti “kalau film kartunnya sudah habis, saatnya untuk mandi ya”. Melakukan hal tersebut membantu untuk mencegah tantrum dengan cara membiarkan anak menyelesaikan apa yang anak sedang lakukan saat itu. Sehingga tidak terjadi perubahan tiba-tiba pada aktivitas anak yang akan memicu tantrum.
  3. Peningkatan Keterampilan

    Ketika terjadi tantrum pada anak karena kurangnya keterampilan, maka Sobatfit dapat mengajarkan keterampilan yang dibutuhkan oleh anak. Sebagai contoh ketika anak ingin menyusun puzzle namun anak tidak dapat melakukannya, maka anak akan mulai menangis dan berteriak. Pada kasus ini anak kekurangan 2 keterampilan, yaitu keterampilan untuk menyusun puzzle dan keterampilan untuk meminta bantuan. Mengajarkan anak untuk meminta bantuan dapat mencegah tantrum di waktu lainnya. Sobatfit juga harus memperhatikan ketika anak-anak ingin melakukan sesuatu yang membutuhkan keterampilan seperti menyusun puzzle, maka sebaiknya disesuaikan dengan usia anak. Pada anak dengan usia lebih kecil dapat diganti dengan menyusun potongan puzzle melalu warna, bentuk, dan lain-lain.
  4. Mengajarkan anak mekanisme koping

    Mekanisme koping merupakan cara yang digunakan oleh seseorang untuk mengatasi rasa frustasi dari dalam dirinya. Mekanisme koping merupakan cara yang cukup efektif untuk mengurangi tantrum pada anak. Contohnya anak diberikan tugas yang cukup sulit dan saat anak mulai merasa frustasi karena tugas tersebut, ajarkan anak untuk meminta bantuan pada orang yang lebih dewasa. Namun dalam pelaksanaan strategi ini dibutuhkan pemantauan dari orang tua, karena anak sebaiknya diajarkan untuk mengatasi rasa frustasinya sebelum episode tantrum muncul.
  5. Berikan pilihan

    Anak yang diberikan pilihan untuk melakukan salah satu diantara dua aktivitas yang seimbang dapat mengurangi tantrum pada anak, karena anak akan melakukan aktivitas yang ia inginkan.

Hal yang harus Sobatfit lakukan dalam menghadapi tantrum:

1. Menghadapi anak saat tantrum

  • Ketika anak sedang berada dalam fase tantrum, hal terbaik yang dapat Sobatfit lakukan jika memungkinkan adalah abaikan perilaku anak sambil tidak memberikan izin anak untuk mendapatkan apa yang ia inginkan atau yang ia hindari.
  • Berikan perhatian kepada anak apabila tantrumnya sudah reda. Dengarkan apa yang mereka inginkan dan jelaskan kenapa keinginan mereka tidak dapat dikabulkan.

2. Hal yang tidak boleh dilakukan

  • Jangan berunding dengan anak. Buatlah anak melihat bahwa cara menyampaikan frustasi melalui tantrum bukan merupakan hal yang baik atau bujuk anak untuk memiliki perilaku yang lebih baik dalam menghadapi frustasi.
  • Jangan langsung berikan apa yang anak inginkan atau membiarkan anak menghindari hal-hal yang tidak ia suka ketika ia mengalami tantrum. Ini menyebabkan anak akan belajar bahwa tantrum merupakan cara untuk mendapatkan apa yang anak inginkan atau cara untuk menghindari sesuatu.
  • Jangan berusaha mengatasi tantrum anak dengan berteriak, memukul, atau perilaku kasar lainnya.
Tantrum

Temper Tantrum merupakan suatu hal normal yang terjadi pada anak. Apabila orang tua sudah melakukan tindakan pencegahan seperti diatas namun masih terdapat peningkatan intensitas, frekuensi atau durasi tantrum pada anak maka orang tua harus konsultasikan hal tersebut pada psikolog atau psikiater anak. Tantrum yang muncul secara terus menerus yang diiringi dengan perilaku yang tidak sesuai mengindikasikan bahwa anak membutuhkan penilaian secara menyeluruh.

dr. Dwi Rizki

Baca juga artikel kesehatan lainnya: https://hellofit.id/category/kesehatan/

Sumber:

  • Watson TS, Watson T, Gebhardt S. 2010. Temper Tantrums : Guidelines for Parents and Teachers. Miami
  • Rokhmiati E, Ghanesia H. 2019. Tantrum Pada Anak Usia Pra Sekolah.

0 Comments

Leave a Reply

More great articles

New Normal, Pemkot Bogor Bolehkan Ibadah Asal dengan Protokol Kesehatan

Kota Bogor menjadi salah satu daerah yang sudah mulai menyesuaikan dengan praktik new normal untuk beberapa kegiatan termasuk kegiatan ibadah.…

Selengkapnya

Mengenal Gejala dan Penanganan Skoliosis

Barangkali anda pernah melihat bahkan mengalami sendiri tulang belakang yang melengkung yang membuat postur tubuh tidak tegap. Kondisi ini merupakan…

Selengkapnya

Sering Lupa Taruh Barang? Ikuti 9 Cara Mudah Tingkatkan Daya Ingat

Menjadi pelupa adalah hal yang paling tidak menyenangkan apalagi jika usia masih terbilang muda. Mengurus keperluan diri sendiri karena belum…

Selengkapnya
Arrow-up